close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

26.5 C
Jakarta
Sabtu, April 4, 2026

Peternak Bebek Jember Keluhkan Harga Anjlok dan Pakan Mahal, Pasar Dinilai Rusak

Gumukmas, mediajember.id — Peternak bebek di Kabupaten Jember mengeluhkan kondisi usaha yang kian terjepit. Harga bebek pedaging terus merosot, sementara harga pakan justru semakin mahal. Situasi ini dinilai memukul seluruh siklus usaha perbebekan.

Keluhan tersebut disampaikan dalam diskusi bersama Paguyuban Peternak Bebek Jember. Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Perikanan (DKPPP) Jember, Asroh JW yang mewakili Bupati.

Diskusi digelar di rumah salah satu peternak di Dusun Jatiagung, Desa Gumukmas, Kecamatan Gumukmas, Rabu (21/01).

Ketua Paguyuban peternak bebek, Imam Suhadi menyampaikan bahwa murahnya harga bebek pedaging berdampak luas. Tidak hanya peternak pembesaran, tetapi juga pengusaha telur bebek dan penjual DOD ikut terpukul.

Saat harga pedaging jatuh, harga telur ikut tertekan. Akibatnya, minat peternak untuk membeli DOD menurun. Siklus usaha yang saling terkait pun terganggu dari hulu hingga hilir.

“Semua kena dampaknya. Telur murah, DOD tidak jalan, pedaging jatuh. Tapi pakan tetap mahal,” ujarnya.

Harga pakan menjadi beban terbesar peternak. Pakan pabrikan menyerap sebagian besar biaya produksi. Kenaikan harga pakan yang terus terjadi membuat peternak sulit bertahan, imbuhnya.

Peternak bebek
Puluhan anggota paguyuban peternak bebek saat berdiskusi dengan dinas DKPPP Jember

Menurut salah satu peternak, Imam Musleh, kondisi dinilai semakin parah ketika perusahaan atau pabrik ikut menjual DOD, telur, hingga bebek pedaging. Praktik tersebut disebut merusak harga pasar.

Peternak kecil tidak mampu bersaing dengan perusahaan besar. Modal terbatas dan biaya produksi tinggi membuat mereka selalu kalah dalam persaingan harga.

“Kalau perusahaan sudah ikut jual DOD, telur, dan pedaging, harga pasti rusak,” keluhnya.

Ia menilai terjadi ketimpangan dalam tata niaga perbebekan. Perusahaan yang seharusnya menjadi penyedia sarana produksi justru menjadi pesaing langsung peternak rakyat.

Baca juga  Ratusan KPM di Desa Grenden Terima BLTS 2025, Kades Kawal Langsung Penyaluran

Dalam diskusi tersebut, peternak berharap pemerintah daerah hadir memberi solusi. Mereka meminta pengaturan tata niaga yang adil dan perlindungan bagi peternak kecil.

Peternak juga berharap ada pengawasan terhadap peran perusahaan besar agar tidak mematikan usaha rakyat.

Keluhan ini menjadi peringatan serius bagi keberlangsungan peternakan bebek di Jember. Tanpa kebijakan yang berpihak, peternak rakyat terancam tersingkir dari pasar.

Trending
Berita terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini